psikologi petualangan
mengapa beberapa orang memiliki gen pengambil risiko ekstrem
Bayangkan sebuah hari Minggu yang hujan. Kita mungkin sedang duduk nyaman di sofa, menyeduh teh hangat, dan bersiap menonton serial Netflix terbaru. Rasanya sangat aman dan menenangkan, bukan? Tapi di detik yang sama, entah di tebing vertikal Yosemite yang mematikan atau di tengah ganasnya ombak lautan Arktik, ada seseorang yang sedang dengan sengaja mempertaruhkan nyawanya. Pernahkah kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ada di dalam kepala para pengambil risiko ekstrem ini? Apakah mereka sekadar kehilangan akal sehat, atau justru ada sesuatu di dalam diri mereka yang tidak kita miliki? Mari kita bedah bersama fenomena yang sering disebut sebagai psikologi petualangan ini.
Sepanjang sejarah peradaban manusia, kita seolah selalu terbagi menjadi dua kelompok besar. Ada kelompok yang memilih menetap, bercocok tanam, membangun kota, dan menjaga perapian tetap menyala. Di sisi lain, selalu ada segelintir orang yang menatap batas cakrawala dan berpikir, "Ada apa ya di balik gunung es itu?" Secara psikologis, dorongan ini dikenal dengan istilah sensation-seeking atau pencarian sensasi. Sejak era penjelajahan samudra hingga misi berbahaya ke bulan, orang-orang dengan sifat ini selalu hadir di garis depan. Kita sering melabeli mereka secara gampangan sebagai "pecandu adrenalin". Tapi, kalau kita mau membedahnya sedikit lebih dalam lewat lensa sains, sebutan itu sebenarnya kurang akurat. Mereka tidak sedang memburu adrenalin. Ada sebuah molekul lain di otak yang bertindak sebagai sutradara dari semua aksi nekat ini, dan molekul inilah yang menyimpan rahasia besar tentang kelangsungan hidup spesies kita.
Molekul yang saya maksud adalah dopamin. Kita mungkin sering mendengar dopamin disebut sebagai "hormon kebahagiaan". Padahal, sains modern membuktikan bahwa peran utamanya adalah sebagai hormon antisipasi, motivasi, dan perburuan. Saat kita makan makanan enak atau mendapat promosi jabatan, otak kita melepaskan dopamin dalam jumlah standar. Kita merasa puas. Tapi masalahnya, otak para petualang ekstrem ini tidak bekerja dengan cara yang serderhana itu. Bagi mereka, secangkir kopi yang nikmat atau naik roller coaster di taman hiburan tidak cukup kuat untuk menyalakan sistem reward di otak mereka. Mereka cenderung merasa "kebas" terhadap stimulus yang biasa-biasa saja. Untuk bisa merasa benar-benar hidup, mereka butuh dosis dopamin yang masif. Pertanyaannya sekarang, mengapa sistem otak mereka bisa begitu kebal terhadap kebahagiaan sederhana? Apakah ini hasil dari trauma masa kecil, pengaruh lingkungan, atau justru ada sesuatu yang sudah tertanam jauh di dalam diri mereka sebelum mereka dilahirkan?
Jawabannya ternyata bersembunyi di dalam untaian DNA. Para ilmuwan genetika dan neurosains menemukan sebuah variasi genetik spesifik yang disebut DRD4-7R. Di kalangan ilmuwan, gen ini sering dijuluki sebagai Gen Petualang (The Wanderlust Gene). Gen ini bertugas mengatur reseptor dopamin di dalam otak. Teman-teman yang kebetulan mewarisi varian mutasi 7R ini memiliki reseptor dopamin yang jauh lebih kurang sensitif dibandingkan orang biasa. Akibatnya? Mereka harus melakukan hal-hal gila, ekstrem, dan berisiko sangat tinggi hanya untuk mencapai tingkat kepuasan yang dirasakan orang biasa saat menikmati sepotong cokelat.
Yang paling luar biasa dari penemuan ini adalah jejak sejarah evolusinya. Variasi gen ini muncul puluhan ribu tahun lalu dan secara statistik paling banyak ditemukan pada populasi manusia purba yang bermigrasi paling jauh dari benua Afrika. Mutasi gen inilah yang membuat nenek moyang kita berani menyeberangi lautan beku, menembus badai, dan merambah daratan yang tidak dikenal. Jadi, perilaku ekstrem mereka hari ini bukanlah sebuah kecacatan psikologis. Itu adalah sisa-sisa perangkat keras evolusi yang dulunya menyelamatkan spesies manusia dari kepunahan.
Pada akhirnya, kita bisa melihat bahwa alam semesta memiliki rancangan yang sangat cerdas dan indah untuk umat manusia. Kita sangat butuh teman-teman yang memiliki gen DRD4-7R ini. Kita butuh mereka untuk terus mendorong batas penemuan, menjelajahi palung laut terdalam, dan memimpin jalan ke planet baru. Namun, mereka juga sangat membutuhkan kita—orang-orang yang tidak memiliki gen ekstrem tersebut—untuk menciptakan rumah yang aman, membangun struktur sosial yang stabil, dan menjaga agar dunia tidak terbakar habis oleh kenekatan.
Jadi, jika akhir pekan ini kita lebih memilih rebahan di bawah selimut sementara ada teman kita yang memilih free diving di gua bawah laut, tidak perlu merasa diri kita payah atau membosankan. Kita semua hanya sedang memainkan peran evolusi kita masing-masing. Bukankah sangat melegakan untuk menyadari bahwa di dalam perbedaan yang paling ekstrem sekalipun, sebagai manusia, kita sebenarnya saling melengkapi?